Kalau Bisa Santai, Kenapa Harus Kerja Keras?

Di negara yang katanya religius dan tepa selira ini, mengapa tindakan Ny. Siami dan putranya yang melaporkan konspirasi busuk di SDN Gadel II, Surabaya, malah menyebabkan dia dihujat oleh tetangga dan wali murid?

Jangan terburu-buru menghujat.

Dalam komunitas orang tua yang mementingkan kelulusan anak diatas segala-galanya, perbuatan Ny. Siami yang mementingkan proses, tentu saja dianggap nyeleneh bahkan disebut sok suci. Tapi kita tidak bisa menyalahkan warga Gadel dan para wali murid. Mereka terlanjur percaya bahwa yang penting dalam sebuah perjuangan adalah hasil akhir. Kenapa begitu? Ya karena semua orang sekarang berfikirnya seperti itu!

Mana ada sih diantara kita yang mau ikutan tes CPNS ketika didepan mata ada yang menawarkan posisi pegawai negeri “siap pakai” hanya dengan imbalan uang 1 juta, misalnya?

Kita sering terlena dan tidak menyadari bahwa elemen “kerja keras” memainkan peranan yang jauh lebih penting daripada hasil akhir itu sendiri. Itulah sebabnya praktik perdukunan disini tumbuh subur. Ngapain  repot berusaha, kalau bisa ke dukun, minta jampi-jampi yang pasti manjur, hehehe.. Kenapa harus menolak uang hibah, nanti kalau jadi terdakwa kasus korupsi, hakim bisa disogok, atau ditinggal kabur ke luar negeri juga beres. Praktik jual-beli narkoba sekarang juga makin canggih, pelakunya hacker, jualan sabu lewat internet.

Orang makin nekat memburu dollar sampai lupa pada kaedah norma dan hukum. Tapi, sadar atau tidak, kita sendiri sering memberikan tepuk tangan dan hormat berlebihan kepada orang kaya, walaupun kita tidak tahu mereka bisa kaya karena apa. Halal atau tidak, kerja keras atau jualan narkoba. Yang penting mereka punya rumah besar, mobil mewah, sering kasih oleh-oleh dari luar negeri.

Anak saya belajar jalan, sekali jatuh langsung diangkat sama eyangnya. Anak saya terbentur pintu, malah pintunya dipukul sama eyangnya. Anak mau makan sendiri, dibilang bikin kotor. Anak mau mandi sendiri dibilang menghabiskan air. Anak teriak karena sepedanya tersangkut, eyangnya buru-buru mengangkat itu sepeda. Nggak usah jauh-jauh ke seorang eyang, kita sendiri sebagai orang tua kadang tidak sadar sudah mempersantai hidup anak.

Padahal, karakter anak dibentuk dari kebiasaan. Dan kebiasaan itu sendiri dibentuk dirumah. Tapi ya bagaimana kalau dirumah itu hanya ada orang tua yang juga terlanjur hidup santai dan tidak mau kerja keras?

Jadi sebelum ikutan protes ke pak gurunya Al, ke Mendiknas, ke Presiden sekalipun, atau meminta Ujian Nasional dihilangkan dari muka bumi, saya sendiri menganggap insiden ini sebagai reminder bahwa saya punya anak yang akan berkembang di lingkungan seperti ini. Apa yang saya bisa saya lakukan?

Yah, berkat Ny. Siami, saya sebagai bagian dari masyarakat yang sakit ini sekarang menyadari bahwa perubahan dan kesembuhan bangsa ini bukan sesuatu yang pantas ditunggu melainkan harus diciptakan sendiri. Kebiasaan baru yang menitikberatkan kepada pentingnya kerja keras bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun mereka berada. Sekarang tinggal bertanya kepada diri sendiri saja, mau atau tidak?

* * *

Advertisements

Leave a comment

Filed under ALL POSTS, MY INDONESIA, RANDOM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s