Film “?” Haram, So What…?!!!

Gonjang-ganjing MUI akan mengharamkan film “?” karya Hanung Bramantyo mendapat kecaman keras dari penduduk timeline twitter saya. Walaupun keputusan tersebut belum final, banyak pihak menyayangkan dan mengkhawatirkan dampak fatwa MUI tersebut terhadap kemajuan perfilman, budaya dan tentu saja pola pikir masyarakat luas terhadap keragaman agama di Indonesia.

Saya memang belum menonton film tersebut, tetapi setelah membaca wawancara antara Filmoo dengan Mas Hanung, saya bisa memahami (walaupun sulit untuk menerima) alasan  MUI, yang salah satunya (menurut saya) adalah adegan pindah agama yang dilakukan oleh karakter di film tersebut. Seperti yang saya sendiri alami sejak kecil, di setiap pelajaran agama Islam, perbuatan tersebut dianggap sebagai perbuatan tidak terpuji (walaupun belum tentu haram, tolong koreksi jika ada yang bisa menjelaskan?).

Satu hal yang perlu kita ingat adalah asumsi MUI akan haram tidaknya film “?” berangkat dari sudut pandang ajaran agama Islam, bukan dari sudut pandang kebebasan individu.

Jika kita menuntut kebebasan individu untuk menyaring sendiri makna film “?” sesuai persepsi kita, maka seharusnya kita juga membiarkan MUI berteriak sesuai keyakinan mereka bahwa menonton film tersebut adalah haram.

Menurut saya itulah bentuk keadilan yang sesungguhnya. Inilah bentuk keragaman yang sebenarnya. Siapa yang memaksa kita untuk punya pola pikir sama dengan MUI? Tidak ada. Lalu kenapa MUI harus punya pemikiran yang sama seperti kita?

Saya pikir kita tidak perlu takut dengan fatwa haram yang dikeluarkan oleh MUI. Tanpa perlu fatwa, perbuatan mencuri jelas-jelas haram hukumnya, tapi toh tiap hari ada saja sepeda motor hilang. Kalau ada yang merasa fatwa MUI mengharamkan film “?” ditunggangi oleh kepentingan politik, saya malah mau tanya, berapa banyak diantara kalian yang mengolok MUI sebagai kesempatan untuk memperolok ajaran agama Islam yang tidak kalian sukai?

Hanung Bramantya sendiri, melalui film “?” ingin menyampaikan pesan: “Saya ingin mengajak semua memaknai lagi masih pentingkah kita berbeda. Terus yang kedua masih pentingkah kita beragama.

1) Tidak penting untuk berbeda, semua orang berhak punya pendapatnya masing-masing, biarpun berbeda, kita masih bisa saling menghormati.

2) Beragama adalah kebebasan tiap individu. Jika Mas Hanung merasa tidak penting untuk beragama, silakan saja. Tapi jika Mas Hanung menghargai perbedaan, maka menurut saya Mas Hanung harus menghargai orang-orang yang menganggap penting agama.

Sementara mulai pagi ini beberapa orang di timeline saya habis-habisan menghujat MUI. Dan mereka mengaku sebagai orang yang berpola-pikir modern, bebas, menghargai perbedaan? Apa nggak salah nih.. Yakin?

* * *

Advertisements

Leave a comment

Filed under ALL POSTS, MOVIES, MY INDONESIA, RANDOM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s