Era Boleh Digital, Tapi Penerus Kartini Masih Banyak Yang Belum Merdeka

Ini era digital, sudah lewat satu dekade milenium. Seharusnya perempuan Indonesia, sebagai generasi penerus RA Kartini, bisa mengambil manfaat kebebasan mencari informasi untuk menambah wawasan. Tapi pada kenyataannya, kemarin saya masih sempat membaca blog seorang perempuan muda yang berharap agar pacarnya menunda keinginannya untuk berpoligami setelah menikah, alasannya karena ia belum semulia istri-istri nabi yang rela berbagi suami.

Seorang perempuan muda jaman sekarang kebingungan karena pacarnya nanti mau poligami setelah menikah?? (Catat: Masih PACAR!!)

Saya (sudah capek, jadi) tidak mau komentar tentang poligami dalam agama Islam. Semua orang bebas mempercayai apapun yang mereka yakini kebenarannya, bebas juga untuk mencari pembenaran sih.  Saya hanya menyesalkan keputusan perempuan itu yang memaksa diri untuk menerima sesuatu diluar kemampuannya. Jelas bagi saya, ia belum merdeka.

Di titik kontradiktif lain, perempuan yang berprofesi sebagai PSK “legal” bebas bertransaksi dan dijamin aman dari grebekan aparat. Mereka biasanya ada di klab-klab malam, wisma remang-remang, dan tempat lain yang ijin usahanya disetujui pemerintah. Namun bagi mereka yg kurang beruntung, terpaksa ‘berjualan‘ secara ilegal, harus siap jika suatu saat tertangkap aparat dalam razia rutin. Yang memutuskan untuk menjadi TKW malah nasibnya lebih tidak jelas lagi. Niat mau mencari uang, malah ada yang (maaf) jadi mayat ketika pulang.

Potret pahit, tapi nyata, apa bisa mereka dibilang merdeka?

Sudah seratus tahun lebih sejak RA Kartini memperjuangkan nasib perempuan Indonesia agar bisa mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Sudah nggak jaman perempuan dipingit selepas sekolah lalu dinikahkan dengan tuan tanah. Kita sekarang bisa sekolah sampai sarjana, S2, dan seterusnya, dan selanjutnya, di negeri sendiri ataupun di negeri orang. Kita boleh bersaing dengan pria di bidang-bidang yang sebelumnya menjadi kekuasaan mereka. Kita, (harusnya) sudah merdeka!

Tetapi sayangnya, belum semua perempuan Indonesia merasakan kehebatan dan manfaat dari kebebasan yang diprakarsai oleh RA Kartini. Bagi beberapa diantara kita, masih ada peninggalan budaya seratus tahun lalu membelenggu kemerdekaan kita untuk berfikir. Apakah anda salah satunya?

Advertisements

Leave a comment

Filed under ALL POSTS, MY INDONESIA, WOMEN CORNER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s