Benarkah Hidup Perempuan Belum Lengkap Tanpa Anak?

A Mother And Her Baby

Sebuah artikel di Kompas Female menuliskan sesuatu tentang perempuan dan keputusan untuk memiliki anak. Begini bunyinya: “lengkapnya hidup Anda sebagai perempuan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempunyai anak.” Setuju? Tidak setuju? Atau ragu-ragu?

Jawaban saya, Ya dan Tidak.

Ya, karena perempuan (layaknya manusia dengan jenis kelamin lain), tidak hanya diberkahi kemampuan berkembang biak tapi juga segudang kemampuan lain yang melengkapi dirinya (dan diri orang lain juga, sering kali). Kita bisa bekerja, mencari uang, berprestasi di bidang apapun. Masih ingat film  Monalisa Smile yang dibintangi si cantik Julia Roberts? Disitu ia berperan sebagai guru yang memotivasi anak didiknya untuk tidak terburu-buru menikah dan berkeluarga.

Tidak setuju, karena pada akhirnya ketika perempuan telah siap, dia akan merasa tidak lengkap tanpa kehadiran anak. Sebuah acara di BBC Knowledge berjudul Tribal Wives membuka mata saya, betapa seorang perempuan di Inggris yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengejar karir, akhirnya memutuskan untuk tidak menerima tawaran pekerjaan baru yang menggiurkan (dari sisi materi), dengan alasan: “I want to have a life.

Segala sesuatu selalu memiliki dua sisi yang menuntut kita untuk berfikir sesuai kondisi masing-masing. Ini bukan masalah kesetaraan gender atau emansipasi dimana perempuan juga berhak untuk mengejar karir. Bukan juga kondisi dimana perempuan yang memutuskan menikah muda dan segera memiliki anak lantas dianggap peninggalan bersejarah. Setiap orang, termasuk perempuan memiliki prioritas dan life purpose yang berbeda.

Beberapa diantara kita menempuh jalan menunda kehadiran anak untuk meraih keinginan. Sementara beberapa diantara kita justru melakukan sebaliknya, juga untuk meraih keinginannya. Tidak ada yang salah, karena semua bertumpu pada keinginan pribadi setiap perempuan.

Yang terpenting adalah untuk menghadirkan anak ketika kita memang sudah siap mental (dan finansial). Bukan karena paksaan lingkungan, bukan karena usia yang makin mengejar (walaupun faktor fertilitas kita dipengaruhi olehnya), dan yang jelas bukan karena “kecelakaan.”

Menjadi ibu adalah sesuatu yang bersifat naluriah, ketika perempuan siap menerima tanggung jawab mulia ini, maka hidup akan terasa semakin indah. Karena insting untuk mengasuh memang sudah ada di diri kita sebagai kodrat perempuan, tetapi kapan insting itu tampil di permukaan akan tergantung pada kesiapan yang tentu saja berbeda untuk tiap individu.

* * *

Advertisements

Leave a comment

Filed under ALL POSTS, WOMEN CORNER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s